Comblang
BRUKK!!!!!
Dea melempar tas nya ke atas meja sambil menggerutu “hh…knapa tiap hari gw harus bawa beban 10kg gt sih? Kapan tingginya gw kalo gini?” omelan yang sama di setiap pagi keluar dari bibir dea saat sampai di kelas 3 IPA 1.
“ makanya kaya gw donk.. bawa buku tulis aja.. buku paket nebeng sama temen sebangku” sahut adit yang duduk di sebelah dea sambil nyegir jahil. Bibir dea maju 2 cm mendengarnya. Gimana ga? Temen sebangku yang dimaksud adit adalah dirinya. Selalu begitu. Dea mebawa buku lengkap untuk semua pelajaran hari itu, dan adit hanya tinggal nyengir dengan maksud “nebeng donk buku paketnya de…” Dea sudah bosan juga marah marah ke mahluk di sebelahnya itu. Entah kenapa dea juga tidak pernah tega untuk berkata “tidak”
Dea lalu mngabaikan adit yang langsung sibuk membuka tas dea. Dea sendiri tahu pasti apa yang dicari adit. Apalagi kalau bukan buku PR. Rutinitas adit stiap hari adalah, bangun lebih awal dari dea, dan sampai lebih pagi dari dea, dan siap membongkar tas dea untuk mencari semua buku PR, dan dengan terampil meng “copy-paste” isinya ke buku PR miliknya.
Dea menuju papan absen di depan kelas, dan mulai mengambil daftar hadir di laci meja guru. Sebagai sekretaris kelas, dea memang harus mengabsen teman-temannya setiap hari. Jumlah siswa dalam kelas dea hanya 30 orang. Dan dea hafal semua nama lengkap mereka. Jadi dea tidak perlu memanggil mereka satu persatu. Cukup melihat saja. Dea mulai mengedarkan pandangan ke isi kelas sambil mencocokan nama di daftar absensi. Sara, anin, lidya, Harvey, angga, riga, putra…. Dea berulangkali mencoba mencari, takut matanya sudah mulai tidak jeli, tapi tetap tidak ada. “ada yang tahu putra kmana?” teriak dea dari depan kelas setelah benar-benar yakin matanya tidak melihat sahabatnya itu. “ oh iya.. Ada suratnya di laci meja guru sebelah kanan..” adit membalas pertanyaan dea, berteriak juga, tanpa memalingkan perhatiannya dari buku PR yang sedang digarapnya. Dea langsung menarik laci meja yang disebut adit..
Bandung, 19 september 2002
Yth. Wali kelas 3 IPA 1
di tempat
bersama surat ini kami mohon ijin anak kami
nama : ananda putra
kelas : 3 IPA 1
tidak dapat mengikuti pelajaran selama 7 hari dikarenakan masalah kesehatan. Surat keterangan dokter kami lampirkan. Atas perhatiannya kami berterima kasih.
SURAT KETERANGAN DOKTER
Dengan ini menyatakan bahwa pasien
Nama : Ananda Putra
Umur : 17 tahun
Alamat : bandung
Saat ini memerlukan waktu istirahat untuk persiapan operasi dan pasca operasi selama kurang lebih 7 hari sejak hari ini. Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.
Bandung, 19 september 2002
Ttd
Dr. wicaksana, Sp.B
Dua surat itulah yang ditemukan dea dalam amplop putih. Operasi? Operasi apa putra? Seingat dea, dua hari yang lalu putra masih baik-baik saja. Sakit apa dia? Pikiran Dea terus berputar dan dipenuhi pertanyaan itu sambil tangannya menuliskan tanda ‘S’ disebelah nama Putra di buku absensi dan di papan absensi. Bahkan sampai dea berjalan dan kembali duduk di bangkunya, pikiran dea masih penasaran. Tapi suara galak bu Rahmi membuyarkan pikiran tak terjawab itu.
“KELUARKAN KERTAS SELEMBAR, TAS DITARUH DI DEPAN KELAS, LACI KOSONG, DI ATAS MEJA CUMA ADA SATU BOLPOIN DAN SATU TIPE-X!!!!!”
Bu rahmi langsung berteriak begitu masuk ke kelas 3 IPA 1. Terjemahan dari teriakan itu adalah.. QUIZZZZ. Terang saja siswanya kalang kabut tidak siap menerima quiz dadakan ini. Karena bukan main-main. Bu rahmi mengadakan quiz.. dan bila nilai dibawah 6, maka siap-siap lari keliling lapangan bola tepat saat istirahat siang , jam 12 siang. Wajah-wajah siswa kelas 3IPA1 berubah pucat dalam sekejap, kecuali Dea. Bukan karena Dea belajar tadi malam, tapi karena pikiran Dea masih mengarah pada Putra. Tapi siapapun tau, Dea tidak perlu belajar untuk menjawab quiz bu rahmi. Biologi adalah mata pelajaran favorit Dea, semua yang berhubungan dengan Biologi seolah-olah tersimpan rapi di otak Dea dan dengan mudahnya keluar saat diperlukan. Benar saja 15 menit mengerjakan quiz, dea sudah keluar kelas dan menuju ke toilet.
***
“wi.. lw tau ga kenapa putra ga masuk hari ini?” Tanya Dea pada Tiwi saat bertemu di kantin jam istirahat. Tiwi bukan teman sekelas dea, tiwi kelas 3IPA2. Tapi tiwi lumayan dekat dengan putra, setahu Dea.
“ ga tau gw de, kmaren Cuma pamit mau IB” jawab tiwi sambil memperhatikan wajahnya di cermin kantin. IB adalah Ijin Bermalam. Dalam sekolah berasrama seperti sekolah Dea, siswa yang hendak menginap di luar asrama sekolah pada hari efektif harus mendapatkan IB dari kepala asrama.
“ oh iya De, katanya besok anak-anak mau protes masalah keputusan kepsek yang menskorsing angkatan kita untuk pesiar, gmana jadinya? Divisi lw bukan?’ Tanya tiwi pada Dea. Dea memang aktif di OSIS, tapi masalah demo yang rencananya bakal digelar besok, sama sekali ga ada hubungannya dengan OSIS. Itu keputusan satu angkatan saat rapat angkatan kemarin malam. Tiwi, tidak ikut rapat kemarin karena tidak enak badan.
“Bukan program OSIS wi, program lurah bareng angkatan kita. Siapa juga yang mau diem di asrama tanpa pesiar selama 1 bulan? Ihh ga banget deh…bisa jamuran kita. Bsok kita semua habis apel ga ada yang masuk kelas wi. Nanti malam ada rapat angkatan lagi. Turun yaaaa” dea menjelaskan rencana angkatannya.
***
Angkatan Dea adalah angkatan ke 5 sekolah ini. Jumlah satu angkatan hanya 150 orang. Jadi satu sama lain sudah pasti saling kenal dan sudah seperti saudara. Saat ini angkatan dea terancam kena skorsing dari kepala sekolah selama satu bulan tidak boleh keluar asrama. Normalnya setiap hari minggu, siswa sekolah Dea memiliki hak untuk pesiar atau jalan-jalan keluar asrama walaupun dibatasi hanya sampai jam 5. Dan ini dikarenakan ada beberapa orang teman Dea yang terlihat memakai baju bebas saat pesiar. Seharusnya memang pakai seragam walaupun berada di luar lingkungan asrama. Lagi apes aja ketemu langsung sama kepala sekolah saat jalan-jalan di BIP (Bandung Indah Plaza). Sebenarnya sih, hampir semua siswa kelas 3, sudah pasti selalu memakai baju bebas saat di luar asrama. Berbagai cara dilakukan untuk menyelundupkan baju dan mengganti baju di luar asrama. Mulai dari melempar tas berisi baju ke semak-semak di belakang asrama sebelum pesiar, karena sebelum keluar asrama tas pasti diperiksa oleh satpam. Ataupun menyimpan baju di toilet ruang tamu asrama, dan habis pemeriksaan, pura-pura ke toilet, dan langsung kabur dengan baju di dalam tas. Selalu saja ada cara untuk itu.
Pukul 08.00 siswa kelas 3 berdiri di lapangan upacara. Tidak satupun masuk ke dalam kelas, sementara lurah angkatan (ketua) sedang berbicara dengan kepsek di kantornya. Meminta kepsek mengganti skorsing pesiar menjadi kerja bakti 1 hari (adil ga sih?). dengan semangat 2000, semangat millennium, Dea dan teman-temannya tetap di lapangan sampai jam 11 siang. Matahari juga tidak mau kalah rupanya, ikut serta menemani angkatan dea berdemo. Padahal ga diundang. Heheheeh
Winson dan mono tampak berjalan kearah dea yang duduk bersila di tengah lapangan. Capek berdiri.
“ De… bengong aja lw!” kaget mono sambil menepuk pundak Dea.
“hmm…” jawab Dea singkat. Keringat mulai membasahi seragam putih nya.
“De, dapet salam dari Udy.” Sambung winson sambil duduk di depan dea.
Dea menatap winson dan mono yang sekarang tepat duduk di hadapannya. Winson dan mono berbeda kelas dengan Dea, tapi Dea memang dekat dengan mereka.
“Udy? IPS 1?” Tanya dea
“yupzzz.. benerr de…hebat tebakan lw” potong ardi yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang dea bersama adit. Jadi sekarang dea duduk bersila di tengah lapangan dan dikelilingi 4 cowo. Winson, mono, ardi, dan adit.
“tuh dia De, liat deh… ganteng ya Udy. Lagi jadi imam sholat” sambung ardi, seolah ga peduli tatapan heran dea pada dirinya. Dari keempat cowo yang duduk di sekelilingnya ini, hanya ardi yang sama sekali tidak pernah satu kelas dengan dea sejak kelas satu. Dan dea pun belum pernah ngobrol intens dengan ardi. Kasarnya.. Dea dan ardi tidak terlalu dekat, bahkan mungkin tidak kenal jauh. Hanya sebatas tau nama dan kenal wajah.
“ iya De, keren banget si Udy.. ganteng, jago basket, tajir, baikk, perfecto” adit ikut nimbrung
“ kalian kenapa sih? Dateng-dateng langsung ngomongin udy. Gw tau dia baik, jago basket, tajir. Trus kenapa?” dea protes setelah sadar dari keterkejutannya melihat ardi yang ngomong seenaknya seolah-olah sudah sering ngobrol dengannya. Dea tau Udy. Satu kelas dengan udy selama satu tahun di kelas 2 cukup membuat dea kenal dengan udy. Cowo dari Bengkulu yang lumayan tinggi, kulit bersih, jago basket, tajir, dan tidak pernah kasar pada teman-teman cewenya. Kalau ganteng??? Hmm… mungkin menurut dea itu terlalu subjektif.
“lw dapet salam dari dia Deaaaaa. Kan tadi di awal gw udah bilang sama lw…” winson mengulang pesannya yang tadi.
“knapa udy nitip salam? Kaya dia ga pernah ketemu gw aja. Ga masuk akal lw son.” Dea tidak mudah percaya. Tapi diam-diam dea sudah mulai curiga ada batu dibalik lobster. Ya.. kedatangan empat cowo ini yang tiba-tiba menjejali telinganya dengan segala sesuatu tentang Udy.
“ya salam aja emang ga boleh? Ato ga cukup ya salam aja… ntar gw bilangin deh sama dia. Kalo mau salam ke dea harus ada penyertanya…” ardi nyeletuk seenaknya lagi.
“BUKKK” dea reflek mengayunkan tangannya ke lengan ardi. Ardi meringis.
“putraaaaa…… kemana aja lw? Ga ngabarin gw…” Dea kontan berteriak kegirangan begitu melihat putra nongol di pintu kelas pagi ini. Putra langsung berjalan pelan ke arah tempat duduk Dea. Kebetulan adit belum datang.
“gw baru habis operasi de… operasi varikokel” bisik putra pelan pada Dea. Dea hanya tersenyum. Dea mengerti kenapa putra berbisik. Varikokel adalah pelebaran pembuluh darah pada daerah kemaluan pria. Mungkin itu menjadi hal yang memalukan buat kaum pria. Tapi bagi dea itu hal yang ilmiah.
“trus gmana? Masih sakit?” Tanya dea tulus.. tanpa ada nada sindiran
“masih de..dikit. kata dokter gw harus latihan jalan tiap hari. Lw temenin gw jalan-jalan sore ya tiap hari de” pinta putra yang hanya bisa jujur pada sahabatnya yang satu ini tentang penyakitnya.
“ok bos” sahut dea mantap.
***
“ deaaa…. Dicariin putra di bawah” teriak tiwi dari depan pintu kamar dea.
“ok. Thanks wi” sahut dea singkat sambil berlari kecil menuruni anak tangga asramanya.
Putra berdiri di depan asrama, dan dea sudah tahu tujuannya. Untuk latihan jalan. Tapi putra ga sendiri. Ada mono, winson, dan ardi juga.
“sang putri datanggg” teriak mono jahil
“ putra, lw mau nyulik gw ato gmana? Bawa gerombolan si berat gini” Tanya dea
“hahahha… ngapain gw nyulik lw sih de… ga usah diculik juga lw mau ikut sama gw.hahahahahah” putra tertawa lepas
“ kita yang mau ikut JJS bareng putra kok de.. sekalian nurunin bobot..biar ga jadi gerombolan si berat lagi” ardi menjawab pertanyaan dea tanpa diminta
Akhirnya mereka JJS berlima..sambil ngobrol dan bercanda bersama. Sudah pasti selalu dea yang jadi objek kejahilan mereka, karena dea satu-satunya perempuan diantara mereka. Tapi dea merasa santai saja, it’s fun. Sampai di lapangan basket, putra tampak lelah.
“ istirahat dulu tra?” dea ga tega lihat putra meringis menahan sakit. Dan putra hanya mengangguk. Mereka berlima duduk pinggir lapangan basket sambil menonton anak-anak basket yang sedang latihan.
“yeeee…. Udy three point” teriak ardi sambil tepuk tangan.
Spontan dea yang tadinya tidak terlalu memperhatikan lapangan basket, menoleh. Tepat disaat udy juga menoleh ke arahnya dan tersenyum. Dea kaget. Senyum itu tampak aneh. Senyum salting. Buru buru dea menghapus pikiran itu.
“wisss… keren bgt emang udy ya de” sambung mono
“oh iya… ini ada titipan dari udy tadi siang.. gw lupa ngasi ke lw de..” kata ardi sambil menyodorkan sebatang coklat tobleron putih pada dea
“buat gw?” Tanya dea ragu
“ iya de.. buat lw dari UDY” ardi menegaskan
Dea mengambil coklat itu dan melambaikannya ke arah udy. “ maksih ya dy” teriak dea. Sekali lagi. Udy tersenyum ‘aneh’
Dea menyimpan coklat itu di tas kecil yang dibawanya. Dan mereka melanjutkan acara JJS.
Dan acara JJS ini berlangsung hampir setiap hari, sehingga dea menjadi semakin dekat dengan 5 cowo itu. Meskipun dea tau, mereka adalah utusan udy, untuk menyampaikan maksud apapun yang udy mau.
Di sekolah pun mereka sering bersama, walaupun mereka tidak satu kelas, tapi seakan-akan ada perjanjian saat istirahat berkumpul di kantin, saat makan siang duduk satu meja, saat pulang sekolah jalan bersama, saat sore JJS lagi.
***
Hari ke 10 ritual JJS dea and the gank, dea heran hanya ada putra, ardi, dan mono. Mana winson dan adit?
“winson dan adit lagi main PS di atas.. nanggung katanya” ardi tiba-tiba nyeletuk seolah bisa membaca pikiran dea.
“oohh… dasar cowo” sahut dea asal.
“sebelum gw lupa de, ini ada titipan dari udy” putra menyodorkan bungkusan kotak denagn bunkus kado hijau yang tampak rapi.
“gw ga ulang tahun hari ini.” Ujar dea
“gw tau… gw kan Cuma nyampein amanah” sahut putra sambil memaksa dea mengambil bingkisan itu.
Hari itu mereka bertiga tidak jalan-jalan.. tapi hanya duduk makan es krim di kantin. Tentunya sambil ngobrol hal-hal yang ga pernah jauh dari udy! Dea bosan dengan topic itu… tapi dea tidak pernah bosan ngobrol dengan putra dan ardi. Jadi dea cuek aja. Tapi di sisi lain.. dea tahu kalau Udy punya niat untuk mendekatinya. Hanya saja..dea bukan tipe cewe yang bisa luluh dan mudah tertarik pada cowo yang menghujaninya dengan hadiah dan salam. Tapi dea juga tidak mau menyakiti siapapun. Selama udy tidak mengatakan apa-apa padanya, dea akan bersikap biasa saja. Semua hadiah dari udy, tidak pernah digunakannya. Coklat, dibagikan pada teman sekamarnya, boneka, diberikan ke adik sepupunya. Kalung, di hibahkan pada tantenya. Dan ga satupun surat udy yang dea balas.
***
Hari ke 20 sejak ritual JJS, kali ini yang ditemui dea hanya ardi. Tidak ada Putra dan yang lainnya. “yang lain pada tidur, capek habis nonton bola semalem” seperti biasa ardi bebicara menjawab pertanyaan di otak dea.
“truss, lw ngapain ga tidur juga? Lw ga ikut bgadang?” Tanya dea
“ gw kasian aja sama lw, udah nungguin mau jjs, malah ga ada yg datang. Kan ga ada yg ngasi tau lw kalo mereka mau tidur kan?” ardi bener. Ga ada yang ngasi tau dea kalo mereka ga mau turun hari ini.
“ihhh tau gt gw tidur juga….awasss aja kalian semua” ucap dea geram. Dongkol juga dia.
“hahahahah… gw ga ikutan ya de… ya udah yuk jalan….” Ajak ardi
Dea JJS berdua saja sore itu dengan ardi. Ardi membawa ipod. Jadi mereka berjalan sambil mendengarkan lagu, dan sesekali bernyayi mengikuti lagu yang mereka tahu sambil saling ejek. Mereka berhenti di lapangan basket. Dan…
“udyyy….” Ardi berteriak memanggil uddy dari pinggir lapangan
Udy menoleh sambil tersenyum (masih)’aneh’ ke arah dea dan ardi sambil melambaikan tangan.
“knapa harus manggil dia sih di?” dea tidak bisa menahan rasa kesalnya. Lama-lama risih juga dia terus-terusan diejali dengan nama udy.
“nyapa aja emang ga boleh de?” ardi menjawab santai.
“auk ah” dea manyun
Tiba-tiba ardi menggandeng tanga dea dan menariknya menjauh dari lapangan basket
“knapa?” kata dea
“daripada lihat lw manyun dsana… jelek… mending liat lw ktawa disini…” jawab ardi sambil menggelitik pinggang dea setelah mereka jauh dari lapangan basket
“hahhahhaahaha…. Udah udah…..” dea tertawa geli… sambil berusaha lari menghindari gelitikan ardi….
“srrooootttkkkk bruk” dea terpeleset dan merasa terjatuh. Dea kaget dan membuka matanya perlahan. “kok badanku ga sakit?” gumam dea
Setelah membuka mata penuh.. dea lebih kaget lagi.. karena ternyata dia ada tepat di dada ardi. Ardi menangkapnya dengan cepat saat terpeleset tadi. Spontan dea mundur 3 langkah. Pipinya memerah.
“ ya ampuuunn kamu berat de…untung tanganku ga patah” canda ardi mencairkan ketegangan dea
“sialan lw..emang gw seberat apa sih? Tapi maksi ya di.. lw sih pake glitikin gw” dea menyalurkan rasa malunya dengan menyalahkan ardi.
Mereka sampai di guest house. Guest house adalah bangunan yang letaknya cukup tinggi di lingkungan asrama dea. Dari guest house, orang dapat melihat kota bandung secara keseluruhan. Karena letak sekolah dea memang tepat di bawah kaki gunung, lebih tinggi dari kota bandung pada umumnya. Ardi dan dea duduk berdua di depan guest house dan menikmati angin sejuk yang menyapa wajah mereka.
“de.. lw pasti tau udy suka sama lw kan?” ardi memecah kenyamanan dea
“knapa memangnya?” dea ketus
“yaa.. lw juga pasti tau kalo gw sama yang lainnya berusaha ngebantuin udy buat deket sama lw.” Ardi menyambung
“ iya.. tapi gw ga terlalu peduli. Sekarang gw kasi tau. Gw ga ada rasa apapun sama udy.” Ujar dea sambil berdiri dan berjalan meninggalakan ardi. Jujur, dea mulai malas dengan topic itu. Dan ardi menyadari itu. Ardi berdiri dan mengejar dea.
“ de.. balapan sampe kantin yuk.. yang kalah traktir bakso” ujar ardi sambil berlari meninggalkan dea
“curangggggg…..” teriak dea berlari mengejar ardi.
Ardi berhasil melenyapkan kekesalan dea begitu saja. Dea lupa dengan rasa kesalnya karena obrolan tentang udy tadi.
***
“traaa… gw dapet surat dari udy nih.” Dea menyodorkan surat yang sudah dibacanya pada putra.
Dear dea,
De..sorry kalu surat gw ganggu lw. Gw pengen ngomong ssuatu sama lw. Kapan lw ada waktu tolong kasi tau gw. Gw selalu siap kapan aja. Thxs ya de…
-udy-
Putra melipat kembali surat itu dan menyodorkannya kebali ke dea. “trus?” Tanya putra
“gw harus gmana traa? Lw kn juga ikutan jadi comblangnya udy…” dea minta pendapat putra
“dulu iya…3 bulan yang lalu de… gw udah mengundurkan diri dari job itu sejak gw berhenti JJS bareng lw..” jawab putra ringan
“maksud lw? Udah 2 bulan lw resign?” dea kaget karena dea tidak pernah menyangka ada hubungan antara JJS dan comblangan ini, khususnya bagi putra.
“iya. Sorry de..awalnya gw emang latihan jalan kok. Trus yang lain mau ikutan sekalian menjalankan misinya udy. Gw pikir ga ada salahnya gw ikutan. Tapi setelah gw sadar akan sesuatu, gw mundur…” kalimat putra menggantung
“sadar apa?” dea penasaran
“hahaha… nanti juga lw tau knapanya…” ucap putra sambil mengacak-acak rambut dea dan meninggalkan dea.
“mau kmana lw?” teriak dea
“wc” putra balas teriak.
***
Ardi sudah stand by di depan asrama saat dea keluar dari asrama putri. Dua bulan terakhir ini ritual JJS tetap berlangsung, walaupun anggotanya hanya ardi dan dea. tapi dea menikmati acara itu. Dan tanpa sadar, dea selalu menunngu datangnya sore. Dea semakin dekat dengan ardi. Bagi dea, ardi teman ngobrol yang mengasyikan. Adi selalu tahu kapan dea mulai kesal, dan selalu tahu bagaimana cara melenyapkan kekesalan dea dan membuat dea tertawa lepas. Dea menikmati itu semua.
“hari ini gw ga mau jalan di..” ucap dea
“…” kening ardi berkerut. Kali ini ardi tidak dapat menangkap isi otak dea.
“ gw mau main di benteng takeshi” kata dea sambil setengah berlari meninggalkan ardi
Ardi tersenyum dan mengejar dea.
Benteng takeshi, sebenarnya lapangan kosong di dekat lapangan basket yang disulap jadi outbond oleh guru olahraga sekolah mereka. Ada panjat tebing, ada tempat untuk pull up yang terbuat dari kayu, ada terowongan yang terbuat dari bis bis berjejer. Mainan favorit dea adalah palang kayu yang tinggi, seperti yang sering digunakan para pesenam untuk berputar putar menunjukan kebolehan mereka.
“hati-hati de..” ucap ardi sambil menjaga dea yang sedang menjajaki tangga bamboo untuk naik ke palang kayu itu. Ini bukan kali pertama ardi menemani dea bermain di benteng takeshi. Ardi sudah hafal apa yang akan dilakukan dea.
“stand by ya di…itung…” perintah dea. dea akan berputar putar di palang kayu itu… dan ardi harus menghitungnya. Dea akan berhenti saat dia mrasa pusing dan mau muntah.
“24..25..26…2.. brakkk” kayu penyangga retak dan mengeluarkan bunyi,
“deaaa…stop… kayunya mau patah…”teriak ardi panic. Tapi dea tetap asyik.
“aaaa…” tubuh dea terlempar saat kayu penyangga benar benar patah.. bruuukkkkkk
“dea..dea…”ardi panic melihat dea terkapar di tanah setelah jatuh dari palang kayu
Dea mendengar suara ardi, tpi sulit sekali membuka matanya. Bumi rasanya berputar. Ardi meraih tubuh dea, dan menggendongnya sampai ke asrama. Dea tidak ingat lagi.
***
Dea membuka mata, berusaha mengenali ada dimana dia?apa yang terjadi?
“de..lw uda bangun. Lw ada di kamar.. lw jatuh kemaren sore waktu main di benteng takeshi..ardi gendong lw sampe asrama.. kata dokter lw gpp” penjelasan tiwi menjawab pertanyaan dea.
“hari apa ini wi?kok uda siang bgt? Ga sekolah gw?” dea masih bingung
“ini hari minggu non. Udah, lw makan dulu nih” tiwi menyodorkan Tupperware.
Dea makan dengan lahapnya. Entah kenapa dea merasa lapar.
“wi..trus ardi dmana?” Tanya dea setelah selesai bergulat dengan makanannya
“…” tiwi diam.
“wi??” dea memanggil ulang tiwi sambil mengibaskan tangannya di depan wajah tiwi.
“oh..eh… apa…?ohh ini ada titipan dari ardi. Sekotak susu cair rasa strawberry.. favorite dea.
Dea tersenyum meminum susu itu.
“gw mau cari ardi dulu ya wi” ucap dea riang sambil mengganti bajunya.
“de…. Ardi ga ada di asrama” kata tiwi menggantung
“maksud lw?ardi pesiar wi?” Tanya dea
Tiwi menggeleng lemah “ ardi di KSA (Kamar Sakit Asrama)” tiwi menggumam pelan
“haa??knapa dia?knapa lw ga bilang dari tadi?” dea panic dan berlari
“de…tunggu..” tiwi mengejar dea
“knapa wi? Knapa ga bilang dari tadi?” dea berjalan cepat ke arah KSA yang terletak di ujung sekolah.
“sorry de..ardi pesen.. kalo lw jangan sampe tau..kaerna kalo lw tau lw pasti panic gini. Lw aja blom sembuh bener.liat jalan lw aja masih sempoyongan gt” jawab tiwi sambil ngos-ngosan mengejar dea yang kakinya 5 cm lebih panjang dari dirinya.
“gw gpp. Ardi knapa?” Tanya dea. sebenarnya dea juga merasa pusing dan mau muntah, tapi rasa paniknya akan kondisi ardi mengalahkan rasa sakit apapun. Dea juga tidak mengerti knapa dia begitu panic.
“berhenti dulu de..biar gw enak jelasinnya…gw kehabisan oksigen nih” kata tiwi sambil duduk terlentang di tengah jalan.
Dea menurut. Duduk di sebelah tiwi. Dan menunggu tiwi mengatur nafasnya.
“kemarin habis gendong lw ke asrama, ardi inget sandal lw masi di benteng takeshi. Dia balik lagi ksana. Karena buru-buru dan panic, dia kepeleset di tangga, dan kepalanya terbentur ujung tangga. Untung pas ada satpam lewat, jadi ardi langsung dibawa ke KSA, kepalanya berdarah” jelas tiwi
“apaaaa????” dea berdiri dan meninggalkan tiwi. Dea berlari ke KSA
Tiwi pasrah. Dia ga sanggup menghentikan dea.
***
“hey de… udah bangun?mimpi apa lw tadi malem? Mimpi digendong pangeran tampan ga?” sapa ardi begitu melihat wajah merah dea yang ngos-ngosan krena berlari.
“kamu knapa?” dea tidak menjawab gurauan ardi. Dea heran, ardi masih bisa santai saat dia panic luar biasa. Dea mencari-cari luka di kepala ardi
“aduhh…jangan teken-teken kepala gw de…sakit” ardi meringis
Dea melihat perban yang menempel di belakang kepala ardi. Dea rasanya ingin menangis. Kenapa jadi ardi yang celaka? Dea merasa bersalah…mungkin….
“de…senyum donk… susu dari gw uda diminum blom?” ardi mengalihkan perhatian dea
“udah. Maksih ya di. Maaf ya..gara-gara gw, lw jadi disini” ucap dea lirih
“ kata siapa gara-gara lw? Gw sengaja kok… biar lw merhatiin gw… hahaha” ardi mengerling jahil
“lw bisa aja ngelesnya” dea tersenyum. Ardi tidak memojokkannya. Sama sekali tidak menyalahkannya. Tapi knapa dea asih merasagelisah? Ini bukan rasa bersalah….
“de..gw minta tolong beliin gw susu donk… haus gw” pinta ardi
“sip… tunggu ya” dea langsung balik badan dan berjalan cepat ke kantin. Jangankan susu, disuruh beli nasi padang yang jauh juga dea mau.asal ardi yang minta. Itu yang ada di pikiran dea, hingga tanpa sadar dea tersenyum.
Sekotak susu rasa mocca dalam plastic diberikan dea pada ardi.
“waaa… lw emang tau bgt gw suka mocca” ardi sumringah menerima susu kotak itu. Dea lebih bahagia melihat ardi senang.
“oh iya de… kata dokter bsok sore gw udah boleh balik ke asrama.” Ardi memberi tahu dea.
“oh ya?syukurlah… brarti lw bisa JJS lagi kan?” canda dea tulus.
***
“di.. gw blom sempat cerita sama lw…” ucap dea saat JJS seminggu setelah ardi keluar dari KSA
“apaan?” Tanya ardi
“udy minta waktu buat ngomong berdua sama gw..” kalimat dea menggantung
“trus..?”ardi berhenti dan duduk di atas meja di depan gedung sekolah
“gw tau dia bakal nembak gw di..gmana donk?” Tanya dea mengaharapkan jawaban ardi
“ kok nanya gw.. kalo lw suka ya terima dia de…” jawab ardi ringan tanpa memandang dea.
“lw mau gw jadian ma udy? Kalo lw seneng gw jadian ma udy..bsok gw terima dia?” entah bagaimana kalimat itu muncul begitu saja dari bibir dea. dea pun tekejut.
“asal lw bahagia aja…”jawab ardi , masih, tanpa mau memandang dea.
Dea turun dari meja dan berdiri tepat di depan ardi. Dea memegang pipi ardi dengan kedua tangannya dan mengarahkan pandangan ardi tepat ke matanya. Jarak wajah mereka sangat dekat.
“lihat gw. Bilang sama gw kalo lw emang pengen gw jadian sama udy” dea menantang. Dea merasa sebuah keberanian muncul dari dalam dirinya bgitu saja. Dea mulai menyadari rasa panic yang dia rasakan waktu ardi di KSA adalah rasa sayang. Dan dea ingin mendapatkan jawaban yang pasti hari ini.
“…” ardi diam. Bukan karena kaget atas sikap dea. tapi karena kaget menyadari ada perasaan tidak rela dalam hatinya bila dea jadi milik orang lain. Haruskah ardi mengakui? Tapi bukannya ardi adalah salah satu tim sukses misi udy? Ardi bingung
“aku ga tau de…” ardi menunduk menghindari tatapan dea yang rasanya lebih sakit daripada saat kepalanya dijahit.
Aku? Dea ga salah denger? Ardi pake kata “aku” . dea semakin yakin. Perlahan dea menggenggam tangan ardi dan membirakan ardi diam.
“de…aku orang yang jahat” ucap ardi lirih
“kenapa ngomong gt?” dea memancing agar ardi mengeluarkan semua isi hatinya
“seharusnya aku seneng kamu jadian sama udy. Karena itu tujuan awalku” jelas ardi
“seharusnya?”dea balik bertanya
“iya de…” ardi menatap dalam ke mata dea. “maafin aku de…aku hanya ingin kamu bahagia”
“aku bahagia? saat ini aku bahagia di… disini sama kamu….” Dea jujur
“aku juga de. Tapi udy…”
“ssttt… “dea memotong ucapan ardi. Air mata dea menetes dan jatuh di tangan ardi. Dea menangis entah untuk apa. Sedih karena dia akan menyakiti udyl,,,bahagia karena dia yakin akan apa yang dirasakannya tidak sia-sia.legaaaa
“jadii… gmana di?? Aku jadian ya sama udy?” dea menggoda ardi sambil tersenyum jahil.
Ardi merengkuh dea dalam dekapannya. Mendekap kuat. “boleh… kalo kamu bisa lepas dari pelukanku”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar